GROBOGAN, – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Tengah menyoroti dua masalah krusial dalam pembangunan keluarga di Grobogan: pentingnya perencanaan matang dan bahaya kebiasaan buruk orang tua yang dapat memicu masalah tumbuh kembang serius pada anak, termasuk stunting dan speech delay.
Perencanaan Keluarga dan Bahaya Gadget
Nasri Yatiningsih, SE., MM, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Muda Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, menyampaikan pesan penting mengenai pentingnya perencanaan keluarga sejak dini, mulai dari calon pengantin hingga pasca-melahirkan.
“Saya titip pesan, jika memiliki keluarga harus direncanakan. Berikan ASI selama 2 tahun penuh dan lakukan KB setelah melahirkan,” ungkap Nasri.
Nasri juga memperingatkan orang tua mengenai fenomena yang kini marak terjadi: distraksi teknologi.
“Saat ini ada fenomena di mana orang tua hanya fokus pada gadget. Anak tidak diajari tumbuh kembang dan stimulasi yang cukup, hal ini dapat menyebabkan speech delay (keterlambatan bicara),” jelasnya.
Nasri berharap orang tua dapat lebih memperhatikan tumbuh kembang dan nutrisi anak agar kasus stunting di Grobogan dapat terus menurun.
Fakta Grobogan: Asap Rokok Picu Stunting Pasif
Sementara itu, Indartiningsih, S.Sos., M.M, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan KB (DPPPAKB) Kabupaten Grobogan, menegaskan peran dinasnya dalam pelaksanaan program KB dan penurunan stunting.
Indartiningsih meluruskan bahwa meskipun anak stunting sudah pasti pendek, anak pendek belum tentu dikategorikan stunting. Ia juga mengungkap fakta mengejutkan dari hasil kajian di Grobogan.
“Stunting yang ada di Grobogan, salah satu penyebabnya adalah asap rokok. Anak menjadi perokok pasif, dan ini dapat memicu anak stunting berdasarkan ahli gizi dan spesialis kandungan,” katanya, menegaskan pentingnya lingkungan bebas asap rokok.
Dalam kesempatan tersebut, Edy Wuryanto, Mitra Komisi IX DPR RI, menyoroti program unggulan pemerintah untuk menekan angka stunting, yaitu MBG (Makanan Bergizi).
“Saat ini Grobogan sudah membangun sekitar 250 Dapur MBG agar pada bulan Desember sudah berjalan seluruhnya. Ini akan membantu ibu hamil, menyusui, serta anak balita mendapatkan gizi terbaik,” ungkap Edy.
Program MBG ini bukan hanya solusi nutrisi, tetapi juga pendorong ekonomi lokal dengan skala yang masif.
“Total anggaran untuk pembelian bahan baku membutuhkan biaya Rp1 triliun lebih hanya untuk wilayah Grobogan. Seluruh bahan baku seperti ayam, telur, pisang, dan susu perah wajib diambil dari wilayah Grobogan. Program ini memiliki perputaran uang yang besar dan bermanfaat untuk seluruh masyarakat,” tutup Edy, menekankan besarnya dampak ekonomi dari inisiatif kesehatan ini.












