Blora – Musim kemarau di Blora nampaknya masih terjadi di Kabupaten Blora, 16 kecamatan masih kesulitan air bersih. Warga kurang mampu hanya andalkan bantuan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mencatat, kekeringan semakin parah dan terjadi di 16 kecamatan.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Blora Abdul Mukhid menyampaikan, saat ini pihaknya masih berfokus untuk mengurangi dampak musim kemarau. Sebab, kekeringan tahun ini lebih parah. Tercatat di data, terjadi seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blora.
“Dari data yang dikumpulkan di setiap kasi trantibmas per kecamatan. Semua melaporkan ada kekeringan, namun tidak semua desa di kecamatan mengalami kesulitan air,” ucapnya.Senin (28/10/2024).
Berdasarkan data BPBD Blora, sampai dengan kemarin (19/10) terdapat 196 desa yang terdampak kekeringan. Desa-desa itu tersebar di 16 kecamatan. Jumlah ini masih sama dengan data yang diterima Jawa Pos Radar Kudus pada 17 Juli.
Mukhid menjelaskan, pihaknya tidak bisa memprediksi secara tepat kapan terjadinya musim hujan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah saja yang bisa memprediksi kapan turunnya hujan dan kekeringan berakhir.
“Jika menggunakan hasil sosialisasi dan pengumuman bahaya kekeringan dan kebakaran hutan oleh Provinsi Jawa Tengah. Musim kemarau diprediksi berakhir di bulan November,” ucapnya.
Pihaknya menambahkan, saat ini BPBD Blora terus berupaya untuk mengurangi dampak kekeringan dengan melakukan droping air. Mengajak semua BUMD, BUMN, relawan dan kelompok masyarakat untuk peduli terhadap kekeringan yang ada di Blora.
Supriyono warga Desa Jepangrejo, Blora mengaku, daerahnya sudah mengalami kesulitan air. Ia seringkali menunggu bantuan dari pemerintah dan bantuan dari para relawan.
“Sumur-sumur sudah tidak keluar air lagi. Semua warga mengandalkan bantuan, kecuali warga yang punya uang untuk beli satu tangki air bersih,” ujarnya.
Ia mengatakan, jika warga yang mempunyai uang itu sering membeli satu tangki air dengan harga sekitar Rp 200 ribu. Kalau warga kurang mampu hanya menunggu bantuan air bersih datang.
“Satu hari itu bisa 10 lebih tangki air keluar masuk desa untuk ngirim air bersih. Sedangkan kalau bantuan air bersih itu sering dikeroyok oleh lebih dari 10 rumah,” ucapnya.












