Blora – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora hingga kini masih mencari lokasi yang layak untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar Refuse Derived Fuel (RDF). Upaya ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU) antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora dengan PT Semen Gresik terkait kerja sama pengolahan sampah.
Kepala DLH Blora, Istadi Rusmanto, mengatakan bahwa kerja sama tersebut telah terjalin sejak sebulan lalu. Dalam perjalanannya, DLH masih berfokus pada pencarian lahan yang sesuai untuk dijadikan lokasi pengolahan RDF.
“Pak Bupati menghendaki agar lokasi berada di wilayah Cepu. Namun, proses ini masih panjang karena kami perlu memastikan kelayakan lahan dan kesiapan infrastruktur,” ujarnya, Sabtu, (17/5/2025)
Istadi menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas RDF memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat. Pihaknya berharap program ini dapat dikomunikasikan secara intensif dengan kementerian terkait, sehingga bisa selaras dengan program nasional dan berpeluang memperoleh bantuan anggaran dari pusat.
“Kami berharap bisa mendapatkan dukungan pendanaan dari pusat, karena kemampuan APBD Blora cukup terbatas,” tambahnya.
Meski demikian, ia belum dapat menyebutkan kisaran anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan RDF tersebut.
Sementara itu, Bupati Blora Arief Rohman sebelumnya mengungkapkan bahwa produksi sampah di Kabupaten Blora mencapai lebih dari 200 ton per hari, baik yang tertampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Blora maupun TPA Cepu.
Melihat kondisi tersebut, Pemkab Blora berupaya mencari solusi konkret yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Salah satunya dengan mengolah sampah menjadi RDF, yaitu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan industri, seperti pabrik semen.
“Dengan pembinaan dari PT Semen Gresik, limbah padat yang sulit terurai di TPA akan diolah melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif,” jelas Arief.
Program ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk pengelolaan sampah di Blora sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan.












