Blora – Momen menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah membawa berkah tersendiri bagi para peternak sapi di Kabupaten Blora. Salah satunya adalah Suyanto, owner Pratama Farm asal Desa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, mengalami kebanjiran pesanan sapi kurban dari berbagai daerah, terutama wilayah Jabodetabek.
Sejak satu bulan terakhir, Suyanto mengaku mendapat lonjakan permintaan hewan kurban, khususnya sapi jenis Limosin. Setiap hari, ia rutin mengirim satu truk berisi sekitar 12 ekor sapi.
“Alhamdulillah, sampai hari ini kami sudah kirim sekitar 160 ekor sapi. Paling banyak ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Rencana pengiriman terakhir nanti satu hari sebelum Idul Adha, ke Semarang,” ungkap Suyanto saat ditemui di kandangnya, Senin (02/06/2025).
Suyanto menjelaskan, peningkatan penjualan sapi kurban tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Jika pada tahun 2024 dirinya hanya mampu menjual 120 ekor sapi karena adanya kekhawatiran masyarakat terhadap wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), maka tahun ini situasinya jauh lebih kondusif.
“Karena sekarang sudah tidak ada PMK, kepercayaan masyarakat kembali meningkat. Jadi pesanan tahun ini jauh lebih banyak,” jelasnya.
Dari berbagai jenis sapi yang dijual, jenis Limosin menjadi yang paling banyak diminati. Menurut Suyanto, sapi Limosin banyak dicari karena memiliki tubuh besar dan dagingnya banyak sehingga dianggap lebih layak sebagai hewan kurban.
“Harga rata-rata sapi Limosin yang kami jual sekitar Rp 20 jutaan. Tapi ada juga yang lebih tinggi, tergantung ukuran dan bobotnya,” imbuh Suyanto.
Suyanto bahkan mengaku baru saja mengirim satu ekor sapi berukuran jumbo dengan bobot mencapai 1 ton ke Pondok Pesantren Qotrun Nada, Bogor.
“Alhamdulillah kemarin kami mengirim sapi dengan berat 1 ton ke Pondok Pesantren Qotrun Nada di Bogor,” terang Suyanto.
Untuk memenuhi lonjakan permintaan, Suyanto juga bekerja sama dengan para peternak di desa-desa sekitar. Ia membeli sapi dari peternak lokal, sekaligus membantu menggerakkan perekonomian desa.
“Kita juga libatkan warga dan peternak lain di sekitar Trembulrejo. Jadi, meskipun pesanan banyak, stok tetap bisa kita penuhi. Sekaligus ini juga bisa menggerakkan ekonomi warga,” terang Suyanto.
Menurut Suyanto, selain sektor peribadahan, Idul Adha juga memiliki dampak ekonomi yang besar, terutama bagi pelaku usaha peternakan di daerah.
Suyanto berharap, tren positif ini bisa terus berlanjut dan memberikan semangat bagi peternak-peternak lokal untuk meningkatkan kualitas ternaknya.
“Ini jadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh peternak. Kami berharap pemerintah juga terus mendukung peternakan rakyat agar ke depan bisa lebih mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan hewan kurban secara nasional,” tandas Suyanto.












