EkonomiHeadlineSeputar Desa

Optimalisasi Lahan Tadah Hujan: Mahasiswa UNNES Edukasi Petani Desa Tinapan Budidaya Tebu untuk Tingkatkan Ekonomi

×

Optimalisasi Lahan Tadah Hujan: Mahasiswa UNNES Edukasi Petani Desa Tinapan Budidaya Tebu untuk Tingkatkan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Mimin saat memberikan materi pada warga tinapan. (Dok)

Blora – Petani di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari ketergantungan pada musim hujan hingga ancaman hama tanaman. Sebagian besar dari mereka menggarap lahan tadah hujan, yang hanya memungkinkan penanaman padi dan jagung satu kali dalam setahun. Kondisi ini membuat produktivitas pertanian stagnan, bahkan kerap berujung pada kerugian ketika serangan hama terjadi.

Menjawab tantangan tersebut, seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), Mimin Rusmini, dari Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, memberikan edukasi dan solusi alternatif kepada para petani. Melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), ia memperkenalkan budidaya tebu sebagai opsi yang potensial untuk meningkatkan pendapatan petani.

Kegiatan edukasi ini berlangsung pada Kamis (25/06/2025) di balai pertemuan Desa Tinapan. Dalam sesi tersebut, Mimin menyampaikan perbandingan risiko dan potensi keuntungan antara menanam tebu dengan padi dan jagung.

“Para petani dibekali edukasi tentang budidaya tebu dan analisis perbandingan risiko serta pendapatan. Tujuannya agar mereka memiliki pertimbangan matang sebelum menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan,” ujar Mimin.

Pemilihan tebu sebagai alternatif tanaman juga bukan tanpa alasan. Letak Desa Tinapan yang berada di ring 1 kawasan pabrik gula PT Gendhis Multi Manis memberikan keuntungan tersendiri, terutama dalam hal kemudahan distribusi dan potensi kemitraan.

“Harapannya, petani bisa mengoptimalkan lahan tadah hujan melalui budidaya tebu. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi desa,” pungkas Mimin.

Antusiasme petani terhadap program ini cukup tinggi. Mereka merasa mendapat wawasan baru yang relevan dan aplikatif terhadap kondisi lahan dan iklim pertanian lokal.

“Setelah saya mengikuti pertemuan ini, saya menjadi sangat berminat untuk beralih menanam tebu,” Wayin ungkap salah satu peserta edukasi.

Program edukasi ini menjadi langkah awal menuju pertanian berkelanjutan di kawasan Blora, sekaligus membuka peluang baru dalam pemanfaatan potensi lokal secara lebih maksimal.

Example 120x600