Blora – Pemerintah Kabupaten Blora berencana melakukan riset terkait sejarah dan perjuangan Samin. Hal itu disampaikan Bupati Blora Arief Rohman saat menghadiri acara peringatan Suro di Pendopo Pengayoman sedulur sikep di Plosokediren, Randublatung, Blora.
Bupati Blora Arief Rohman yang rutin menghadiri acara tersebut mengatakan pihaknya mengapresiasi dan mendukung setiap kegiatan dan pelestarian kebudayaan di Blora.
Termasuk rutinan yang dilakukan sedulur sikep dalam peringatan Suro. Menurutnya hal itu membawa spirit dan upaya untuk menyampaikan ke anak cucu tentang laku hidup dan nilai-nilai yang diajarkan Samin.
“Sebagaimana kata Mas Gunretno tadi, ada tokoh-tokoh Samin yang sampai diasingkan kolonial karena perjuangannya,” paparnya.
Dari situlah pihaknya mewacanakan ke depan akan melakukan riset terkait sejarah dan perjuangan Samin. Pihaknya akan meminta dinas dan tim terkait untuk menyusun rencana itu.
“Soal riset sejarah Samin, kami minta tim kebudayaan nanti. Tadi mas Gunretno cerita tokoh Samin yang diasingkan. Ini nanti bisa ditulis, jadi buku,” tuturnya.
Hal itu menurutnya penting karena akan jadi bahan literasi bagi anak-anak. Sehingga perjuangan Samin terdokumentasi dan menjadi spirit bagi generasi muda. Untuk membela keadilan dan kebenaran.
“Nanti bisa jadi literasi bagi anak-anak kita. Agar tahu perjuangannya seperti apa. Nanti anggaran riset polanya seperti apa, kita bahas. Poinnya kita ingin melestarikan,” tambahnya.
Tokoh sedulur sikep, Gunretno mengapresiasi rencana Bupati Blora. Sebab pihaknya memang sudah lama berharap hal itu dilakukan.
“Tawaran riset Bupati, kami apresiasi. Kami lama sekali berkeinginan, bagaimana untuk membuka sejarah ini,” jelasnya.
Sebab menurutnya jika bicara Sedulur sikep, maka akarnya adalah dari Blora. Maka selain perlu dilakukan pelacakan secara biologis juga perlu ada riset.
“Karena bonggolnya wong sikep ya di Blora. Kalau sikep bonggol kan Mbah Samin. Maka perlu pelacakan,” tuturnya.
Sebab menurutnya, dalam setiap tempat yang ditinggali Samin, selalu ada perjuangan yang dilakukan. Ia pun mencontohkan perjuangan Samin di Sawahlunto saat diasingkan jadi pekerja tambang.
“Perjuangkan Mbah Samin ini dikenang sampai ada penghargaan dari UNESCO di Sawahlunto. Karena Mbah kami, di mana-mana meninggalkan kebaikan,” tegasnya.












