ArtikelHeadlinePemerintahan

Penggaris Memey yang Hilang

×

Penggaris Memey yang Hilang

Sebarkan artikel ini
Verlita Marsha Diandra

Penulis : Verlita Marsha Diandra

Pagi itu, kelas VI di SDN Harapan Bangsa terasa hening, diselingi gesekan pensil di atas kertas. Cahaya matahari pagi menyusup dari jendela, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Bu Rina, guru Seni yang dikenal sabar dan penyayang, baru saja memberikan tugas menggambar pemandangan sawah di kaki gunung. Semua murid sibuk mengeluarkan peralatan, dari pensil H, 2B, hingga set pensil warna.

Semua, kecuali Edo yang tampak gelisah. Ia merogoh-rogoh tasnya dengan kasar, wajahnya yang bulat mulai berkerut cemas.

“Aduh, penggarisku ketinggalan di rumah,” gumam Edo pelan, cukup untuk didengar olehnya sendiri. Ia teringat penggaris panjang yang ia butuhkan untuk membuat garis tepi dan petak sawah yang rapi.

Pandangannya jatuh pada kotak pensil Memey, teman sebangkunya yang selalu rapi, alat tulisnya selalu lengkap dan tertata apik. Edo memberanikan diri. Ia mencondongkan tubuh sedikit agar bisikannya tak menarik perhatian Bu Rina.

“Hei, Memey,” bisik Edo hati-hati, “bolehkah aku meminjam penggarismu sebentar? Aku lupa bawa.”

Memey menoleh, senyumnya yang selalu cerah mengembang. Ia mengambil penggaris plastik warna biru muda kesayangannya, hadiah ulang tahun dari ayahnya, dari kotak pensil. “Boleh, Edo, silakan. Tapi hati-hati, ya. Jangan sampai patah.”

“Terima kasih, Memey! Kamu penyelamatku,” ucap Edo lega. Ia segera menggunakan penggaris itu untuk membuat garis tepi pada kertas gambarnya dan mengatur pondasi sawah dengan presisi.

Waktu berlalu cepat, diiringi bunyi ‘kres-kres’ pensil. Teeettt! Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, memecah konsentrasi. Sebagian besar murid berhamburan keluar menuju kantin. Memey memilih untuk tetap di tempat, menyelesaikan sedikit lagi warna biru muda pada gambar langitnya, sambil menikmati suasana kelas yang mulai sepi.

Edo menghampirinya sebelum ia bergegas keluar. “Ini, Memey, penggarismu. Terima kasih banyak, ya. Gambarku jadi rapi berkat penggarismu,” ucap Edo tulus, meletakkan penggaris itu di atas meja Memey, tepat di samping kotak pensil berwarna ungu miliknya.

“Sama-sama, Edo,” balas Memey, tidak terlalu memperhatikan karena sibuk merapikan pensil warnanya. Ia hanya melirik sekilas, melihat penggaris itu sudah di atas meja, dan berasumsi Edo sudah mengembalikannya dengan benar.

Pelajaran kembali dilanjutkan setelah istirahat. Mereka beralih ke pelajaran IPS. Memey mengambil penggaris yang dikembalikan Edo, menyimpannya ke dalam kotak pensil. Ia memastikan semua alatnya kembali lengkap sebelum menutup kotak pensil dan mulai mengeluarkan buku IPS.

Kriiiiiinggg! Bel tanda istirahat kedua berbunyi. Ini adalah waktu istirahat yang lebih singkat, biasanya digunakan untuk ke toilet atau merapikan loker. Memey memutuskan untuk merapikan lokernya. Ia membuka kotak pensilnya untuk memindahkan beberapa pensil warna, dan saat itulah ia tertegun.

“Lho, mana penggarisku?” gumamnya, matanya yang besar menyisir isi kotak pensil dengan panik. Ia mengaduk-aduk isinya, lalu memeriksa seluruh permukaan mejanya. Hanya ada pensil, penghapus, dan pensil warna. Penggaris biru muda itu, yang panjangnya pas 30 cm, lenyap.

Tasya, teman sebangku Memey yang sedang asyik membaca novel fantasi, mendongak, melihat raut wajah Memey yang berubah pucat. “Ada apa, Memey? Kok panik begitu?”

“Ini, Tasya, penggarisku hilang,” balas Memey dengan nada cemas yang nyata. “Tadi Edo sudah mengembalikannya. Aku ingat sekali aku melihatnya di meja, dan aku yakin sudah memasukkannya ke kotak pensil.”

“Penggaris biru mudamu yang ada stiker Ayahmu itu?” tanya Tasya, berusaha mengingat. “Coba kamu cari lagi. Mungkin terselip di buku atau jatuh ke kolong meja.”

Memey menggeleng lesu, hampir menangis. “Sudah, Tasya. Aku sudah cari di dalam tas, di laci, bahkan aku sudah merangkak di bawah meja. Benar-benar tidak ada.” Air mukanya memancarkan kesedihan. Penggaris itu bukan hanya alat tulis, tapi juga kenang-kenangan spesial.

Tasya, yang ikut merasakan kepanikan temannya, mendekat. Ia ikut mencari di sekitar bangku mereka, tapi hasilnya nihil. “Aduh, aneh sekali, Mem. Jangan-jangan ada yang salah ambil dan dia tidak sadar. Coba cari lagi besok, ya. Siapa tahu besok ada yang mengembalikannya setelah sadar.”

“Baiklah,” ucap Memey, menghela napas pasrah. Perasaan tidak enak, bercampur sedikit prasangka buruk, mulai mengganggunya. Teeettt! Bel masuk kembali berbunyi, menandakan jam pelajaran terakhir dimulai. Memey berusaha fokus, tapi pikirannya terusik. Di benaknya muncul bayangan-bayangan siapa saja yang mungkin melihat penggaris itu.

Keesokan harinya, saat bel istirahat pertama berbunyi, suasana hati Memey masih keruh, matanya sesekali melirik kotak pensil yang terasa hampa tanpa kehadiran penggaris biru muda itu. Tiba-tiba, Dani, salah satu murid yang dikenal pendiam dan jarang berinteraksi, berjalan ragu-ragu menuju meja mereka.

“Memey,” ucap Dani pelan, suaranya terdengar tercekat.

Tasya dan Memey serentak menoleh, bingung dengan kedatangan Dani yang tidak biasa. “Ya, Dani, ada apa?” tanya Memey lembut.

Dani terlihat sangat salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah. Ia dengan hati-hati menyodorkan sebuah penggaris plastik biru muda. “Ini, Memey. Aku… aku ingin mengembalikan penggaris milikmu.”

Memey terbelalak. Tasya refleks menutup mulutnya. Penggaris itu benar-benar milik Memey, ada sedikit goresan di sudutnya yang ia kenali.

“Mengembalikan? Kapan kamu meminjamnya, Dani?” tanya Tasya, sedikit terkejut.

Dani menunduk dalam-dalam, merasa malu. “Maaf, Memey. Kemarin… setelah Edo mengembalikannya dan kamu sedang sibuk, aku melihat penggarismu di meja. Aku juga lupa bawa penggaris untuk tugas Seni, jadi aku langsung ambil saja tanpa bilang padamu. Aku pikir nanti saja aku bilang saat mengembalikannya. Tapi saat istirahat kedua, aku benar-benar lupa. Aku terburu-buru dan langsung memasukkannya ke tasku. Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya.”

Wajah Memey yang awalnya tegang, perlahan melunak, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Ia mengambil penggarisnya. “Syukurlah kamu jujur, Dani. Aku sudah cemas sekali. Penggaris ini hadiah dari Ayahku, jadi sangat berharga untukku.”

Ia tersenyum lembut, menghilangkan sisa-sisa ketegangan. “Tidak apa-apa, Dani. Aku mengerti, kok. Tapi, lain kali jika ingin meminjam, bilang dulu ya. Mengambil tanpa izin itu sama saja… seperti mencuri, kan? Aku tidak ingin kamu dicap seperti itu.”

“Iya, Memey. Aku janji! Aku sungguh minta maaf,” balas Dani. Ia tersenyum lega, dan senyumannya kali ini terasa tulus dan bebas dari beban.

Sejak hari itu, Dani, Memey, dan Tasya berteman baik. Memey belajar untuk mengendalikan rasa cemas dan tidak cepat berprasangka buruk pada orang lain. Tasya belajar untuk selalu bersabar dan mendukung temannya. Dan Dani, ia belajar bahwa kejujuran, meskipun sulit, adalah kunci untuk menyelesaikan masalah dan membangun kepercayaan. Persahabatan mereka kini terjalin erat, dimulai dari sebatang penggaris biru muda yang sempat hilang, namun membawa pelajaran berharga tentang integritas dan komunikasi.

 

Example 120x600