Oleh : Li Ulinuha, S.Pd.
Di balik senyum ramah seorang pendidik, seringkali tersimpan segudang perjuangan yang membentuk karakternya. Inilah kisah Novita Sari Rodhiyah, seorang guru di SDN Kedungsatriyan, Ngawen, Blora, yang membuktikan bahwa keterbatasan dan lika-liku hidup bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah keberhasilan.
Masa Kecil dalam Pelukan Rindu
Novita Sari Rodhiyah adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Masa kecilnya, terutama di bangku Sekolah Dasar, diwarnai rasa rindu yang mendalam, rasa sepi yang senantiasa mengiringi langkah kecilnya. Di saat teman-temannya merasakan kehangatan keluarga yang lengkap, Novita harus tumbuh hanya bersama Ayah dan Neneknya.
Keramaian di rumahnya terasa berbeda. Setiap hari perayaan dan pembagian rapor selalu menyisakan ganjalan di hati kecilnya. ia merindukan sosok Ibu yang hadir seutuhnya di sisinya. Kasih sayang Ayah dan Nenek memang tak terhingga, namun lubang kerinduan terhadap pelukan seorang Ibu tetap saja menganga. Hati kecilnya sering menangis merindukan lambaian dan sentuhan kasih saying seorang ibu.
Sang Ibu, sosok yang sangat dirindukan, berjuang demi masa depan keluarga dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi. Kepergian Ibu meninggalkan lubang kesedihan. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah ungkapan kerinduan seorang anak yang harus menerima kenyataan pahit bahwa kasih sayang ibunya terbentang ribuan kilometer jauhnya. Masa SD hingga SMA dijalaninya dengan penuh liku dan air mata. Situasi ekonomi dan jauhnya sang ibu menuntut Novita kecil untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan kuat menghadapi segala tantangan.
Dari Rental Pengetikan Menuju Bangku Kuliah
Setelah lulus dari bangku SMA, Novita dihadapkan pada kenyataan pahit: Orang tua tidak mampu membiayainya kuliah. Namun, impian Novita untuk mengejar ilmu tak pernah padam. Ia memutuskan untuk segera bekerja. Pintu rezeki terbuka di sebuah rental pengetikan milik bibinya di kecamatan Kunduran, Blora. Sambil bekerja tekun dan semangat membara, hati kecilnya terus berteriak ingin merasakan bangku perkuliahan. Akhirnya, dengan tekad bulat, Novita mendaftar dan diterima di salah satu Perguruan Tinggi Islam Swasta di Blora yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Al Muhammad .Ia menjalani hidup sebagai pekerja sekaligus mahasiswa, sebuah peran ganda yang menuntut pengorbanan luar biasa.
Berbeda dengan mahasiswa lain yang mungkin berkendara nyaman, Novita harus mengayuh sepeda tuanya puluhan kilometer setiap hari untuk mencapai kampus. Terik matahari atau derasnya hujan bukan menjadi halangan. Setiap kayuhan adalah simbol keteguhan hati, membawa impiannya setapak demi setapak menuju gerbang sarjana. Sepeda tua itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi bisu perjuangan dan semangat pantang menyerah. Keterbatasan dana memaksanya mencari akal.
Usaha Jualan Online: Motor Penggerak Cita-Cita
Gaji dari rental pengetikan ternyata belum mencukupi untuk membiayai kuliah dan kebutuhan hidupnya. Kreativitas dan semangat wirausaha Novita pun muncul. Ia memutuskan untuk merintis usaha jualan online oleh-oleh khas Blora. Mulai dari produk sederhana seperti Tempe Daun Jati, Keripik Gedebog, hingga minuman khas seperti Kopi Santan, Kopi Klotok, dan Kopi Cokelat, Novita menjajakan semua dagangannya. Ia belajar mengelola bisnis, sambil tetap mengejar nilai-nilai akademis terbaik.
Setelah lulus Sarjana, perjuangan belum usai. Hasil kerja kerasnya, termasuk dari jualan online, ia gunakan untuk membeli sebuah sepeda motor secara kredit. Ia harus bekerja giat, mengorbankan waktu istirahat, demi melunasi kendaraan yang menjadi alat transportasinya untuk mengejar masa depan.
Panggilan Mengabdi di SDN Kedungsatriyan
Titik balik besar dalam karier Novita datang pada tahun 2021. Berkat ajakan dan kepercayaan dari Ibu Pamik Lestari, S.Pd., Kepala SDN Kedungsatriyan, Ngawen, Novita mendapatkan kesempatan emas. Ia diminta untuk membantu mengajar Pelajaran Agama di sekolah tersebut. Tawaran ini diterima Novita dengan tangan terbuka. Status sebagai guru honorer tidak sedikit pun mematahkan semangatnya. Meskipun ia tahu betul bahwa status honorer seringkali berarti mengajar dengan jam kerja penuh namun digaji ala kadarnya, seringkali harus menalangi kebutuhan belajar siswa dengan dana pribadi, dan menghadapi ketidakpastian jenjang karier, ia tidak gentar. Justru, ini adalah langkah awal menggapai cita-cita menjadi pendidik sejati, meneruskan semangat juang yang ia miliki sejak kecil. Bagi Bu Novita, panggilan jiwa untuk mendidik jauh lebih besar daripada hitungan nominal di slip gaji.
Tujuan dan Kesan Seorang Guru Honorer
Sebagai seorang guru honorer, Bu Novita memiliki tujuan yang sangat jelas. Bukan sekadar mengajar, tujuan utamanya (misi pribadi) adalah menjadi “jembatan ilmu” dan “teladan ketekunan” bagi murid-muridnya, menunjukkan bahwa latar belakang yang sederhana tidak menghalangi siapapun untuk meraih pendidikan dan sukses. Mengajar juga merupakan cara Novita mewujudkan mimpinya sejak kecil, yakni mengabdi di dunia pendidikan dan meneruskan semangat pengabdian. Meskipun status honorer seringkali berarti penghasilan yang pas-pasan, kesan yang paling mendalam bagi Novita bukanlah soal materi, melainkan kebahagiaan batin. Ia pernah berujar, “Meskipun gaji honorer hanya cukup untuk menopang satu kaki, tapi melihat mata polos anak-anak yang bersemangat belajar, apalagi pelajaran agama, itu adalah kekayaan yang tak ternilai harganya.” Ia menemukan bahwa dengan status honorer, justru semangatnya untuk berusaha tidak pernah padam. Ia tetap aktif berjualan online, membuktikan bahwa seorang pendidik bisa menjadi pengusaha, mengajarkan kemandirian finansial dan etos kerja secara nyata kepada masyarakat.
Dari Kisah Novita Sari Rodhiyah adalah cerminan dari semangat ketahanan sejati: Dia mengajarkan bahwa jika satu pintu rezeki tertutup, kita harus membuka seribu jendela usaha. Seorang guru sejati adalah dia yang tidak hanya mencerdaskan muridnya, tetapi juga menjadi sumber inspirasi hidup bagi sekitarnya.












