BLORA – Memasuki musim kemarau ekstrem, kondisi Sendang Bangeran di Dukuh Bangeran, Desa Kamolan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mulai mengering. Selain debit air yang berkurang, sumber air andalan warga tersebut kini dipenuhi endapan lumpur.
Kondisi tersebut menggerakkan warga untuk bergotong royong menguras dan membersihkan endapan lumpur di dasar sendang agar aliran air dapat kembali lancar.
Kepala Dusun (Kadus) Bangeran, Sutarji, menjelaskan bahwa Sendang Bangeran merupakan sumber air utama bagi ratusan kepala keluarga di wilayahnya. Keberadaannya tetap menjadi tumpuan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari meski di area sekitar terdapat belasan sumur warga.
“Di sekitar lokasi sendang setidaknya ada 15 sumur bor milik warga. Namun, keberadaan Sendang Bangeran tetap memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat,” ujar Sutarji, Sabtu (10/10/2026)
Sutarji menambahkan, Sendang Bangeran merupakan sendang kuno yang dipercaya masyarakat setempat sebagai peninggalan Sunan Kalijaga. Menurut cerita turun-temurun, mata air di sendang ini tidak pernah benar-benar kering meski dilanda kemarau panjang.
“Walau debitnya berkurang, sumber airnya tetap ada di pojok selatan. Dulu titik itu dipercaya sebagai tempat tancapan tongkat Sunan Kalijaga, makanya air terus keluar dari sana,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Kamolan, Majianto, menyampaikan bahwa pemanfaatan air Sendang Bangeran melingkupi warga Dukuh Bangeran dan Dukuh Kamolan. Seiring perkembangan zaman, sistem pengambilannya kini telah beradaptasi.
“Kalau dulu warga mengambil air secara manual (nganggu), sekarang warga membuat sumur-sumur bor di sekitar sendang. Ada 15 sumur bor yang dialirkan langsung ke rumah-rumah warga,” kata Majianto.
Pihak desa berharap aksi gotong royong pembersihan lumpur ini dapat mengembalikan debit serta kualitas air Sendang Bangeran, sehingga kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau tetap terpenuhi.












