EkonomiHeadline

Warga Blora Berburu Janur Jelang Tradisi Lebaran Ketupat

×

Warga Blora Berburu Janur Jelang Tradisi Lebaran Ketupat

Sebarkan artikel ini
penjual janur kelapa saat mendasarkan dagangannya di pasar sido makmur blora.(Dok)

Blora – Menjelang tradisi Lebaran Ketupat 2025 (bodo kupat) di pasar tradisonal Blora, Jawa Tengah, sudah banyak penjual janur kelapa yang bermunculan.

Kemunculan mereka menjadi sasaran sebagaian besar warga setempat untuk membeli.

Janur kelapa yang dijual di pasar tradisonal masih dipasok dari luar Kabupaten Blora seperti Rembang, Tuban dan Kebumen.

Jari, salah satu penjual janur di pasar tradisional Sido Makmur, asal Desa Sumurboto Kecamatan Jepon, mengatakan janur mulai dijual pada H+1 Idulfitri 1446 Hijriah.

“Saya dapat kiriman janur kelapa dari Kebumen. Satu ikat berisi 50 helai janur harganya Rp20.000,00. Sedangkan satu ikat yang terdiri 10 helai janur harganya Rp5.000,00,” jelasnya, di pasar tradisional Sido Makmur Blora, minggu, (06/04/2025).

Selain menyediakan janur kelapa, ia juga menyediakan selongsong ketupat dan tali pengikat lepet serta buah kelapa tua untuk membuat santan sayur.

“Pembeli yang menghendaki selongsong ketupat yang sudah jadi saya sediakan, bahkan saya buatkan langsung, harganya Rp15.000,00 per 10 buah,” kata Suwarti, penjual janur lainnya.

Suwarti mengaku, mengatakan aktivitas musiman dilakukan untuk menambah penghasilan keluarga.

“Ini sudah saya jalankan setiap tahun menjelang kupatan,” kata dia.

Tidak hanya di pasar Sido Makmur Blora, penjual janur kelapa juga bermunculan di Pasar Desa Gedongsari, Pasar Jepon, Pasar Tradisional Banjarejo, Ngawen dan pasar tradisional lainnya di Kabupaten Blora.

Ngarmin, penjual janur kelapa di pasar tradisional Gedongsari Kecamatan Banjarejo mengemukakan janur kelapa dibeli dari Pasar Sulang, Kabupaten Rembang.

“Saya berangkat jam 04.00 pagi, kemudian membeli (kulak) janur di pasar Sulang. Dari Pasar Sulang harganya Rp15.000,00/ikat. Sampai di Blora saya jual Rp20.000,00/ikat berisi 50 helai janur,” kata pria asal Desa Balongsari Kecamatan Banjarejo.

Dirinya membeli janur kelapa dari pasar Sulang lebih kurang 100 ikat diangkut dengan naik sepeda motor. Kemudian setiba di pasar langsung diserbu pembeli.

“Alhamdulillah selalu saja habis dibeli warga dan penjual di pasar,” tambahnya.

Sementara itu, selain berburu dan membeli janur kelapa di pasar tradisional, sebagian warga ada yang memilih pesan beberapa ikat dari penjual keliling, kemudian di antar ke rumahnya.

“Setahun sekali, buat ketupat dan lepet dimakan bersama keluarga dan dibagikan ke saudara,” kata Watini, warga Jepangrejo Kecamatan Blora.

Safitri, penjual ketupat dan lepet siap saji mengatakan ia memilih menyediakan lontong, ketupat dan lepet siap saji yang telah dimasak sehingga mempermudah pembeli tinggal menyantapnya. Hanya saja, harganya berbeda jika dibandingkan membuat sendiri.

“Untuk lontong yang sudah masak, satu buah Rp3.000,00. Lepet Rp3.500,00 dan ketupat Rp3.000,00 Ini tinggal makan, tidak usah repot membuat,” kata Safitri.

Selain itu, Ayu pembeli lain mengaku momen ini juga sekaligus sebagai momen berwisata kuliner. sambil membawa bekal ketupat dan lepet ke pantai seperti di pantai Kartini Rembang atau di pantai wilayah Kabupaten Jepara.

“Itu menarik dan bermakna, bagian dari kearifan lokal, karena masih dalam suasana lebaran atau di bulan Syawal serta saling bermaafan,” ucap Ayu pembeli jamur.

Ketupat atau kupat dibuat dari beras, dinikmati dengan sayur kuah santan. Sedangkan lepet dibuat dari bahan ketan dicampur parutan kelapa dan beberapa ditambah kacang tholo.

Beberapa warga di pedesaan, pada pagi hari Lebaran Ketupat biasanya menggelar hajatan yang dipusatkan di rumah perangkat desa atau tokoh masyarakat.

Example 120x600