EkonomiHeadlinePemerintahanSeputar Desa

Akses Jalan Terputus Imbas Tanah Ambles Sedalam 1,5 Meter di Ngetrep Blora

×

Akses Jalan Terputus Imbas Tanah Ambles Sedalam 1,5 Meter di Ngetrep Blora

Sebarkan artikel ini
jalan ambles di desa tutup mulai di tangani PUPR dan BBWS Pamali juwana.(Dok)

Blora – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora, bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana (BBWS Pemali Juana), melakukan penanganan tanah ambles dan longsor di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Senin (12/1/2026).

Tampak sejumlah eksavator diterjunkan dalam penanganan tersebut. Di sisi lain, juga tampak sejumlah warga yang ikut bergotong royong melakukan pemotongan bambu.

Pasalnya, yang paling terdampak tanah ambles itu yakni jalan desa tidak bisa dilalui. Namun jika tidak segera ditangani, tanah ambles itu mengancam rumah warga di sekitar jalan tersebut.

Pada kejadian ini jalan desa mengalami penurunan tanah sekitar 1 meter hingga 1,5 meter. Lokasi tanah ambles itu, juga berjarak 20-30 meter dari Sungai Lusi.

Subkoor Pembangunan dan Rehabilitasi Sumber Daya Air DPUPR Blora, Wahyu Benyamin Arivin, mengatakan dalam penanganan tanah ambles dan longsor ini mengandalkan kolaborasi antarpihak.

“Ini kolaborasi dari DPUPR, BBWS, BPBD, dari desa dan juga kecamatan. Ini sementara kita lakukan penanganan kedaruratan,” ucapnya.

“Ini kami fokus, minimal jalan bisa dilewati dulu. Kemudian ini kami juga sudah berkoordinasi dengan BBWS, informasinya bahwa sekarang ini dari BBWS baru melakukan pengukuran untuk nantinya penanganan permanen dan semi-permanen,” jelasnya.

Lebih lanjut, Beny menjelaskan penyebab tanah ambles di Dukuh Ngetrep lantaran pengelolaan drainase kurang optimal.

“Selama ini drainase kurang diperhatikan, jadi air yang dari atas, kemudian ada kebocoran drainase turun ke bawah, akhirnya menjadikan tanah di bawahnya itu menjadi gembur, beban dari tanah sendiri akan membebani turun ke bawah,” terangnya.

Adapun untuk teknis penanganan sementara, pihaknya saat ini menerjunkan dua alat berat eksavator, dari DPUPR dan BBWS Pemali Juana. Dengan melakukan pemancangan trucuk bambu. Sehingga, penanganan sementara untuk yang jalan. Minimal kendaraan motor, pikup bisa lewat.

“Namun untuk kendaraan yang lebih besar, jangan lewat dulu, karena bisa mengakibatkan getaran dan beban terhadap jalan,” jelasnya.

Beny berharap ada bantuan anggaran untuk penanganan lebih lanjut, agar ke depan tidak terjadi kembali tanah ambles di Dukuh Ngetrep.

“Harapan kami semoga saja nanti dari Kementerian lewat BBWS Pemali Juana, bisa memberikan anggaran kepada kita agar penanganan longsoran ini bisa sekira diselesaikan,” harapnya.

“Untuk kebutuhan anggaran ini tentunya dari teman-teman BBWS yang mengetahui secara pasti, baik itu untuk penanganan sementara ataupun untuk penanganan permanennya. Ini BBWS lagi melakukan pengukuran,” jelasnya.

Taminah warga setempat harus rela warung tempat usahanya dibongkar sementara. Hal itu usai kejadian tanah ambles di sekitar warungnya yang beberapa pekan ini semakin parah.

Musim hujan, membuat fenomena tanah ambles di RT 8 RW 3, Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, itu kondisinya semakin mengkhawatirkan.

Jalan desa ambles sekitar 1 meter sampai 1,5 meter. Warung Taminah, dekat dengan jalan. Keputusan warung milik Taminah dibongkar, lantaran tanah ambles yang semakin parah bisa mengancam keselamatannya.

Pembongkaran warung tersebut, dilakukan sejak kemarin Minggu (11/1/2026). Lokasi warung milik Taminah, berdekatan dengan Sungai Lusi, hanya berjarak sekitar 20-30 meter.

“Dibongkar sejak kemarin, gotong royong dibantu masyarakat,” ujarnya.

Selain untuk jualan, Taminah mengatakan warungnya tersebut juga digunakan sebagai tempat tinggal.

Saat ini Taminah, mengungsi di rumah tetangganya, menunggu penanganan tanah ambles tersebut selesai.

“Ini ngungsi di rumah tetangga. Enggak tahu sampai kapan. Kalau tanah ambles sudah ditangani, nanti dibangun lagi warungnya,” terangnya.

Di warungnya, Taminah biasa berjualan sembako, kopi, dan makanan. Ia berharap tanah ambles di sekitar warungnya bisa segera diatasi. Sehingga dirinya bisa kembali berjualan.

“Harapannya ya dibenerin lagi. Nanti ke sini lagi kalau sudah aman. Biasanya jualan, kopi, sembako, lontong, dan tidur juga di sini,” terangnya.

Diketahui, fenomena tanah ambles dan longsor di Dukuh Ngetrep, tersebut sudah terjadi sejak 2024. Hanya saja, tanah ambles ini merupakan yang terparah dari tahun-tahun sebelumnya.

Selain rumah warga yang terdampak, jalan desa juga terdampak tanah ambles.Sehingga untuk sementara jalan tersebut tidak bisa dilalui. Warga harus memutar sejauh 2,5 kilometer.

Kepala Desa Tutup, Kokok Sungkowo, mengatakan ada lima rumah yang terdampak tanah ambles dan longsor tersebut. Dari kelima rumah itu, empat rumah sudah pindah sendiri. Dan masih ada satu rumah yang belum pindah.

“Kemarin kami sudah berkoordinasi dengan DPUPR untuk relokasi. Nanti kayaknya akan dipindah untuk di tanahnya sendiri. Dari DPUPR nanti diberikan bantuan berupa material dan nanti kita bersama masyarakat gotong-royong untuk proses pemindahan rumah warga tersebut.Mudah-mudahan tidak sampai merembet ke perkampungan warga yang lainnya,” jelasnya.

Kokok, menyampaikan kejadian tanah longsor di Dukuh Ngetrep itu memang sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Hanya saja dirinya mengeklaim tidak bisa berbuat banyak, lantaran keterbatasan anggaran dana desa  mengingat penanganan ini memakan biaya besar.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah yang diwakili dari BBWS, DPUPR, untuk penanganan yang cepat,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, saat ini ada dua eksavator yang diterjunkan untuk penanganan tanah ambles dan longsor tersebut.

Example 120x600