PONOROGO- Pengakuan UNESCO terhadap Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak benda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak pada 2024 membuka jalan bagi penguatan perlindungan seni tradisi yang memiliki akar budaya serumpun. Kali ini, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjajaki langkah untuk mengusulkan kesenian Barongan ke UNESCO melalui skema National Extension atau perluasan nominasi yang berkaitan dengan elemen Reog Ponorogo.
Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Barongan Blora–Reog Ponorogo yang digelar di Ruang Rapat Bantarangin, Gedung Graha Krida Praja lantai II, Kabupaten Ponorogo, Kamis (15/10/2026).
Pada FGD ini Komunitas Seniman Reog Ponorogo menyatakan persetujuannya, dan siap mendukung agar Seni Barongan Blora yang masih serumpun dengan Reog Ponorogo, bisa memperoleh pengakuan dari Unesco sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda Indonesia dari Kabupaten Blora.
Di hadapan para seniman Barongan Blora dan Tim Asistensi Unesco yang hadir dalam FGD itu, komunitas seniman Reog Ponorogo dipimpin Pak Marji secara bersama-sama menyatakan dukungannya untuk Barongan Blora secara lisan maupun tertulis.
“Rahayu… Rahayu… Rahayu… Reog Ponorogo..!! Kami komunitas Reog Ponorogo setuju dan mendukung Barongan Blora menjadi USL Extension Reog Ponorogo di Unesco. Sebagai kesenian yang serumpun, kami siap mendukung agar Barongan Blora juga mendapatkan pengakuan dunia lewat Unesco seperti halnya Reog yang telah lebih dulu terdaftar,” ujarnya.
Pihaknya mengapresiasi upaya Pemkab Blora bersama para seniman untuk mendaftarkan Barongan Blora sebagai warisan budaya dunia ke Unesco. Agar memiliki kejelasan dalam keberlanjutan pelestarian seni budayanya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, S.Sos., M.Si. menyambut baik rencana pengusulan Barongan Blora masuk Unesco dengan pendampingan langsung dari Tim Asistensi Unesco, yang dulu juga mendampingi Reog Ponorogo dalam mendapatkan pengakuan dari Unesco pada 2024 silam.
“Tentunya lewat FGD ini kami sangat senang dan kami mendukung bahwa ketika teman teman seniman Blora dari komunitas, kemudian dari pemerintah daerahnya, penggiat dan seluruh elemen ingin mengusulkan Barongan Blora bisa diinskripsi ke Unesco. Sama seperti Reog Ponorogo, tentunya ini nanti bisa masuk melalui skema atau jalur extension atau pengembangan atau perluasan,” ujarnya.
Menurutnya pada hakekatnya Reog dan Barongan sama sama berakar dari cerita panji. Hanya saja pengembangan karakternya berbeda beda di setiap daerah, sesuai kekhasan masing-masing. Seperti halnya di Blora, kemudian ada juga barongan yang di Blitar, Kediri, Kudus, Demak, dll. Semuanya punya ekspresi seni yang beda namun akarnya sama.
“Semoga dengan masuknya pengusulan Barongan Blora ke USL extension Reog Ponorogo di Unesco, dapat semakin memperkaya khasanah budaya Indonesia di mata dunia. Semakin menguatkan budaya barong yang serumpun. Ponorogo Blora bersaudara dalam berkesenian berkebudayaan,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Bapperida Blora, Drs. Heru Eko Wiyono, M.Si., selaku pimpinan rombongan ke Ponorogo, didampingi Kabid Kebudayaan Dinporabudpar Blora dan Paguyuban Seniman Barongan Blora. Menyampaikan bahwa pelaksanaan FGD ini merupakan upaya untuk membangun kebersamaan sekaligus meminta izin agar Barongan Blora dapat menyusul Reog Ponorogo masuk Unesco.
“Setelah hari ini kami silahturahmi dan menggelar FGD di Ponorogo. InshaAllah besok sore kesepakatan antara seniman Blora dan Ponorogo ini akan diperkuat dengan penandatanganan MoU yang akan dilaksanakan oleh Bupati Blora dengan Plt. Bupati Ponorogo. Sebagai payung hukum bahwasanya Ponorogo siap mendukung pengusulan Barongan Blora masuk Unesco, satu rumah dengan Reog Ponorogo,” ujarnya.
Tahapan pengusulan Barongan Blora agar diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia tak benda dari Indonesia inipun, langsung dikawal oleh Tim Asistensi yang pada 2024 lalu berhasil mendaftarkan Reog Ponorogo. Targetnya bisa lolos pada tahun 2027 nanti.
Tim tersebut terdiri dari Drs. Harry Waluyo, M.Hum., Fasilitator ICH (Intangible Cultural Heritage) atau Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Kemudian Dr. Muksin, S.Sn., M.Sn., Dosen Seni Rupa ITB Bandung asli Blora; Damardjati Kun Marjanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional / BRIN; serta Panca Waluyo dari Yayasan Pendidikan Auditor Indonesia.
Turut hadir pula Guru Besar Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Prof. Dr. Slamet MD, M.Hum., yang juga putra asli Kunduran Blora. Bahkan beberapa seniman pemilik sanggar Reog Ponorogo yang hadir dalam FGD tersebut merupakan mantan mahasiswa Prof. Slamet.
Sedangkan dari Blora hadir Aan Ketua Paguyuban Seniman Barongan Blora, Adi Wibowo Ketua Barongan Risang Guntur Seto, Widodo Ketua Barongan Singo Lodra Todanan, Ridwan CS, Pak Supat, Sabikin, dll.












